Jalan dalam Melayani Kebenaran Ketika Menghadapi Rintangan

Keseimbangan

Tanya: Berkenankah Anda menjelaskan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan duniawi serta ukhrawi kita?

Jawab: Keseimbangan adalah sesuatu yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupan. Setiap manusia berkewajiban untuk berlaku seimbang, mulai dari kehidupan iman hingga ibadah, mulai dari makan hingga minum, hingga menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan anggota keluarga terdekat hingga yang terjauh.  Nasihat Sahabat Salman al Farisi[1] berikut kepada Abu Darda’ menggambarkan betapa keseimbangan dan tamkin adalah sesuatu yang amat serius bagi setiap individu:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.[2]

Pada urutan paling awal, pemahaman akan penghambaan perlu dipahami dengan baik. Sebagaimana diketahui, tujuan asli dari mengingat Allah adalah untuk meraih rida Ilahi. Hal lain semisal memiliki karamah dan mampu melakukan hal-hal ajaib sekali-kali bukanlah tujuan asli. Para kekasih Allah pun memandang hal tersebut dengan pandangan risi dan tidak memedulikannya sedikit pun. Karamah tadi hanyalah bonus yang didapatkan dari ketulusan bekerja serta tanpa pamrih dalam berusaha. Ketika seorang hamba mendapatkannya, dia akan menerimanya dengan perasaan campur aduk antara gembira dan khawatir seraya berujar: ‘Ya Rabb! Ini semua adalah hadiah yang berasal dariMu!’. Namun, reaksi paling tepat dari seorang hamba pada keadaan yang demikian adalah lintasan ujaran yang senantiasa disempurnakan oleh loyalitas kepadaNya seperti: ‘Ya Rabbi! Apakah aku telah berlaku tidak setia kepadaMu sehingga Engkau memberiku manisan-manisan ini?’. Dengan lintasan ujaran seperti ini, ia sekali lagi mengecek kesadikannya kepada Tuhannya.

Seorang manusia demi memperbaiki hubungan dengan Rabbnya, tidak wajib mengasingkan dirinya dari keramaian masyarakat. Perbaikan hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat diraih dengan senantiasa memperbaharui pandangan kita terhadap penciptaan dan kehidupan kita pribadi, menjaganya tetap segar dan melakukan muhasabah atasnya, muraqabah[3], serta dengan hal-hal lain yang dapat meningkatkan cinta dan hasrat kita kepadaNya. Manusia yang berada di atas garis-garis besar ini sebagaimana ia tak mungkin akan melewati waktu yang dimilikinya dengan kelalaian, penghambaannya juga semakin lama semakin dalam, hingga akhirnya merasakan ketenangan dan ketentraman dalam jiwanya. Seandainya diperlukan sebuah contoh, dapat dilihat pada sosok seorang tabib. Penelitian dan pengamatannya di bidang anatomi serta fisiologi manusia akan mengasah ufuk pemikirannya di bidang itu. Barangkali karena hal tersebut, Imam Ghazali pada karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin memberikan perhatian yang sama besarnya pada ilmu kedokteran dan ilmu agama dan menganggap pengabaian atasnya sebagai pengabaian kepada bangsa dan agama. Bagaimana mungkin tidak disebut sebagai pengabaian! Andai diperlukan sebuah contoh sederhana, Anda pasti akan mengerang dan meradang ketika satu saja kuku jari Anda menancap dan melukai kaki Anda. Anda pasti akan berseru: ‘Apa tidak ada orang yang bisa membantu meredakannya?’. Saat itu datanglah seseorang yang mampu meredakan nyeri dan peradangannya. Orang tersebut di mata Anda pastilah bagai seorang Khidir. Posisi sama juga dimiliki oleh seorang dokter yang yakin akan penyembuhan segala macam penyakit, baik penyakit berat ataupun ringan. Jika seandainya menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah kriteria bagi seseorang untuk mendapatkan ganjaran pahala, para dokter beriman yang melayani sebuah masyarakat dapat dianggap sebagai waliullah dan tidak ada satu orangpun yang dapat menyamai derajat kewalian mereka. Saya pikir seorang dokter yang beriman, hanya dengan usahanya di bidang pengobatan sudah cukup untuk menyelamatkannya di akhirat nanti. Ini adalah sebuah keseimbangan dan menganggapnya sebagai bagian dari keseimbangan adalah hal yang sangat penting. Hal yang sama juga berlaku untuk ilmu-ilmu agama. Jika Anda menarik diri dari masyarakat untuk mengasingkan diri, maka masyarakat dunia akan diliputi oleh kekufuran dan kesesatan. Karena di saat penjelasan dan bimbingan agama kepada masyarakat harusnya dilakukan, ia justru terabaikan.

Terkait pembahasan ini, saya ingin menyampaikan sebuah peristiwa yang terjadi di masa Baginda Nabi shallallahu alayhi wasallam. Ketika Rasulullah sedang tidak di rumah, tiga sahabat datang menemui istri Nabi yang suci untuk menanyakan bagaimana ibadahnya Baginda Nabi. Ketika apa yang mereka amalkan ternyata jauh dari penjelasan jawaban dari pertanyaannya tersebut, mereka berkata: “Dimanakah tempat kami dibanding Nabi. padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” salah seorang di antara mereka berkata: “Saya selamanya akan shalat sepanjang malam.” Yang lain berkata: “Saya selamanya akan berpuasa.” Yang lain lagi berkata: “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. datang dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. Itulah sunah-sunahku, siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”[4]

Apa yang tampak dalam peristiwa tersebut, Rasulullah marah terhadap pengamalan sesuatu secara ifrat[5] sebagaimana beliau marah terhadap perbuatan maksiat. Maksiat menghancurkan keseimbangan dalam kehidupan islami; ia adalah sesuatu yang mengeluarkan manusia dari orbitnya. Beramal secara ifrat di waktu yang sama berarti berlaku tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu perhatian cermat dalam setiap amal.

Dalam kehidupan ini, hampir semua orang pernah tak seimbang  dalam beramal. Misalnya, ketika saya bertugas Trakya, usia saya waktu itu 18 atau 20 tahun, saya hanya makan makanan tak berkali sekali sehari. Hal itu saya lakukan agar keinginan darah muda yang mengalir dalam diri saya tidak naik. Padahal sebenarnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyarankan kita untuk berpuasa untuk mengendalikan keinginan-keinginan tersebut.[6] Seandainya saat itu saya sedikit makan, sedikit tidur, dan banyak berlari untuk melayani iman, barangkali saya bisa mendapatkan hasil yang sama. Satu contoh lagi di masa muda saya. Saya pernah berdoa: ‘Ya Allah, anugerahilah saya penyakit, agar saya sibuk dengan rasa nyeri dan sakit, sehingga saya bisa melupakan keinginan nafsu saya.” Bahkan untuk menggilas nafsu, saya pernah berdoa dengan permohonan yang lebih berat lagi. Akan tetapi, semua itu adalah hal yang keliru. Semua hal tadi adalah kekeliruan yang berasal dari kurangnya pemahaman akan keseimbangan. Karena Baginda Nabi bersabda: “Mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat"[7] Oleh karena itu, kita berkewajiban menjaga kriteria yang telah ditentukan oleh Baginda Nabi sebagaimana tercantum dalam haditsnya tersebut.

Menurut saya, hal lain yang juga kehilangan keseimbangannya dewasa ini adalah hak orang tua dan mengunjungi rumah sanak saudara. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menegaskan hal ini dalam Al-Quran dan menyebutkan menghormati orang tua bersamaan dengan perintah untuk beribadah kepadaNya[8]. Jika demikian, maka kewajiban kita adalah sambil berlari untuk melayani iman dan Al-Quran, kita juga harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencium tangan serta mengambil hati mereka. Bisa jadi kita sangat sibuk dengan tugas melayani iman dan Al Quran dan kedua orang tua kita barangkali masih belum berada di jalur yang sama dengan kita. Akan tetapi, dilihat dari peran mereka yang telah menjadi sarana lahirnya kita ke dunia ini, melakukan segala sesuatu yang bisa membahagiakan mereka – kecuali untuk mendurhakai Allah – adalah sangat bernilai.

Sebagai kesimpulannya, ketika seseorang sedang membuat rencana dalam kehidupannya, ia juga harus memperhitungkan siang, malam, masa muda, masa sakit, masa tua, agar bisa menuntaskan kewajibannya dan tidak memikul beban yang tak mampu dibawanya.

Evaluasi

  1. Tujuan asli dari mengingat Allah adalah untuk meraih rida Ilahi. Jelaskan maksudnya!
  2. Bagaimanakah karamah di mata para waliyullah?
  3. Penulis mengatakan para dokter beriman yang melayani sebuah masyarakat dapat dianggap sebagai waliullah. Mengapa? Jelaskan!
  4. Bagaimanakah keseimbangan dapat dilakukan?
  5. Siapakah teladan kita yang paling seimbang? Bagaimana?

(Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Denge’ Dari Buku Prizma 4) 



[1] Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).

[2]  HR. Bukhari no. 1968

[3] Mengontrol, menyidik diri sendiri, introspeksi diri, meneliti dan memahami posisi diri

[4] HR Bukhari, Nikah 1 dan Muslim, Nikah 5.

[5] Berlebih-lebihan, Melampaui batas, kebalikan dari tafrit (Penerj.)

[6] يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

 ‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).' (HR Bukhari)

[7] HR Tirmizî, salât 46, daawât 138; Abu Daud, salât 35.

Dari Anas bin Malik dia berkata; "Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya bertanya; "Wahai Rasulullah, do`a apa yang paling utama?." Beliau menjawab: "Mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat." Kemudian datang lagi di hari yang kedua, dan bertanya; "Wahai Rosulullah, do`a apa yang paling utama?." Beliau menjawab: "Mintalah ampunan dan kesehatan kepada Robbmu di dunia dan akhirat." Kemuduian datang lagi di hari yang ketiga, dan bertanya; "Wahai Nabi Allah, do`a apa yang paling utama?." Beliau menjnawab: "Mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat, dan jika kamu telah di beri ma'af dan kesehatan di dunia dan akhirat, maka kamu telah beruntung."

[8] وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23] 

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2024 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.